Selasa, 15 Januari 2013

petunjuk praktek ilmu ukur kayu



 PETUNJUK PRAKTIKUM
ILMU KAYU








KATA PENGANTAR

Petunjuk praktikum ini dibuat sebagai salah satu penunjang kegiatan matakuliah Ilmu Kayu.   Dengan adanya petunjuk praktikum ini diharapkan dapat memberikan arahan dan bantuan bagi para praktikan ilmu kayu sehingga dalam pelaksanaan kegiatan praktikum dapat berjalan dengan lancer.
Dalam petunjuk praktikum terdiri dari tujuan, landasan teori dan prosedur pengamatan dalam setiap kegiatan, yeng terdiri dari tiga pokok bahasan yang terdiri :
1.Bidang orientasi kayu
2.Sifat fisik kayu
3.Sifat fisika kayu
Dengan tiga materi pokok ini diharapkan mahasiswa dapat memahami secara mendalam bagian-bagian dari kayu dan dapat mengamati secara kasat mata karateristik dari kayu serta dapat menentukan jenis-jenis kayu yang sesuai dengan kegunaannya dilihat dari sifat fisik dan fisika kayunya.
      Diharapkan dengan adanya petunjuk praktikum dapat bermanfaat bagi mahasiswa yang mempelajari matakuliah ilmu kayu.


Mataram, 14 Oktober 2010


                                                                                                    Penulis








TATA TERTIB PRATIKUM ILMU KAYU

1.      Semua peserta pratikum harus datang tepat waktu
2.      Pada saat pratikum harus menggunakan pakaian praktikum
3.      Tidak diperkenankan makan dan minum didalam ruangan praktikum
4.      Bila berhalangan karena sakit dan alasan  lainnya harus ijin dalam bentuk tertulis dan disampaikan sehari sebelumnnya.
5.      Bila yang berhalangan harus tetap mengikuti tahapan-tahapan praktium dengan mengganti hari yang lain.
6.      Setiap selesai kegiatan praktikum harus mengisi kartu tanda hadir dan ditandatangani dosen yang bersangkutan
7.       Laporan praktikum dikumpulkan seminggu sebelum pelaksanaan ujian akhir dan bila melebihi waktu yang telah ditetapkan tidak akan diterima.











I.  BIDANG ORIENTASI KAYU

TUJUAN
1.      Mahasiswa dapat mengetahui tiga bidang orientasi kayu
2.      Mahasiswa dapat mengetahui bagian-bagian yang terdapat pada kayu

LANDASAN TEORI
Bidang orientasi kayu adaah bidang pembantu yang diperlukan dalam pengenalan jenis kayu sehingga diperoleh kesan yang sebenarnya dari sifat atau tanda-tanda yang diperlukan untuk pangenalan kayu.
Bidang orientasi pada kayu terdiri dari 3 bidang yaitu :
  1. Bidang tangensial : bidang yang dngiperoleh dengan memotong kayu tegaklurus salah satu jari-jari kayu, searah serat, tidak melalui sumbu kayu.
  2. Bidang radial : bidang yang diperoleh dengan memotong kayu searah serat melalui sumbu kayu.
  3. Bidang aksia/transversal/longitudinal: bidang yang diperoleh dengan memotong kayu tegaklurus dengan sumbu kayu.
Dalam bidang orientasi kayu kita dapat mengamati beberapa bagian kayu yang secara kasat mata dapat kita amati antara lain : lingkaran tahun, xylem (kayu).phloem (kulit), empulur, jari-jari (tidak semua kayu) dan pori-pori (tidak semua kayu)
Xylem terbagi atas dua bagian yaitu :
  1. Kayu teras adl bagian kayu yg terletak dekat empulur dan biasanya berwarna lebih gelap, secara fisiologis selnya sudah mati, fungsinya hanya sebagai kekuatan mekanik
  2. Kayu gubal adl bagian kayu yg dekat dengan kulit dan biasanya berwarna lebih  terang dibandingkan kayu teras, karena selnya masih hidup.  Fungsinya sebagai penyalur air zat2x yg terlarut dari akar ke tajuk, penyimpan makanan dan sebagai kekuatan kayu
Phloem terbagi atas dua bagian :
  1. Kulit dalam adalah kulit yg terletak dibagian dalam dan berwarna lebih muda
  2. Kulit luar adalah kulit yg terletak dibagian luar dan berwarna lebih gelap dari dari kulit dalam
Pertambahan kayu dalam suatu periode pertumbuhan disebut riap pertumbuhan.
Riap pertumbuhan nampak sebagai lingkaran tahun pada penampang transversal/longitudinal.  Lingkaran tahun dapat berguna utk menaksir umur pohon. 
Lingkaran tahun ada beberapa macam : lingkaran tahun normal, lingkaran tahun abnormal, lengkaran tahun semu
Jari-jari kayu adalah lembaran2x atau pita2x jaringan horisontal yg seolah2x berasal dari permukaan luar kayu (dekat kulit) dan menuju kearah batang (hati)
Saluran pembuluh terdiri atas sel2x pembuluh yg tersusun dalam seri vertikal sejajar sumbu pohon dan memanjang sampai tinggi tertentu dlm batang

BAHAN DAN ALAT
  1. Kayu bentuk baji
  2. Cutter
  3. Kaca pembesar (lup)

PROSEDUR PENGAMATAN
  1. Potongan kayu bundar dibelah menjadi bentuk baji
  1. Dengan menggunakan cutter belah bagian kulit utk mengamati bidang tangensial.
  2. Gunakan lup utk mengamati bagian2x yang kurang jelas
  3. Gsmbarkan semua bagian pada kayu.








II. SIFAT FISIK KAYU

TUJUAN
1.      Mahasiswa dapat mengetahui sifat fisik kayu
2.      Mahasiswa dapat  mengidentifikasi sifat fisik kayu
 
LANDASAN TEORI
Sifat fisik berhubungan dgn kesan yg diperoleh oleh pancaindera kita apabila kita melihat, membau, meraba dsb thd kayu tsb.
Sifat fisik yg penting utk identifikasi kayu a.l :
  1. warna kayu
Warna kayu Warna kayu adl warna dari kayu asli (kayu teras), dan dpt dilihat pada goresan/bidang baru yg belum kena pengaruh air, matahari dll pengaruh dalam waktu yg lama
  1. Kesan raba
Kesan raba adalah kesan yang diperoleh pada saat meraba permukaan kayu (kasar, halus, licin, dingin, berminyak dll). Kesan raba tiap jenis kayu berbeda-beda tergantung dari tekstur kayu, kadar air, kadar zat ekstraktif dalam kayu
  1. Kilap kayu
Kilap adalah sifat dari kayu itu utk memantulkan cahaya
  1. Bau dan rasa
Bau dan rasa merupakan dua sifat yg sulit digambarkan karena masing-masing memilki sifat.  Bau dan rasa kayu mudah hilang bila kayu lama tersimpan di udara terbuka.
  1. Berat kayu
Untuk menentukan berat kayu dilakukan dgn cara apung yaitu dgn memasukan potongan kayu ke dalam air dan mengamati berapa bagian yg terendam.
Dalam uji menggunakan contoh uji berbentuk kubus :
a.        ¼ nya terendam = ringan= berat 16 lbs/cuft
b.                  ½ nya terendam = sedang = 32 lbs/cuft
c.                   ¾ nya terendam = berat = 47 lbs/cuft
d.                  Tenggelam         = berat sekali = berat 47 lbs/cuft
  1. Kekerasan
Kekerasan yang dimaksud adalah kesan yg diperoleh apabila seseorang mengiris kayu dengan pisau atau menekan dgn kuku
Sifat fisik ini bersifat sangat obyektif karena mengandalkan pancaindera kita, dimana pengamatan satu orang dgn yang lain yang berbeda.  Tetapi sifat fisik ini dapat membantu pengguna kayu untuk memilih kayu yang baik.
  1.  Pengujian abu (test abu)
Pengujian abu adalah pengujian dengan cara membakar sample kayu seukuran lidi kemudian dibakar dalam udara yg tenang, sisa dari pembakaran dicatat dan digolongkan kedalam :
  1. Arang (charcoal), kayu terbakar dgn pelan dan sukar, meninggalkan arang dgn cerat abu yg berwarna hitam atau abu2x
  2. Abu sempurna (complete of full), terbakar menjadi abu tetapi masih tinggal dalam bentuk semula
Dalam pengujian abu diamati juga :
  1.  Warna abu
  2. Sifat2x pembakaran (mengeluarkan suara gemeritik/tidak, bau yg timbul)

BAHAN DAN ALAT
  1. Contoh uji kayu ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm
  2. Contoh uji kayu ukuran 5 cm x 5 cm x 10 cm
  3. Contoh uji seukuran lidi
  4. Gelas ukur
  5. Air
  6. cutter
  7. lilin

PROSEDUR
  1. Untuk pengamatan warna kayu, kesan raba,kilap kayu, bau dan rasa, dan kekerasan menggunakan contoh uji ukuran 5 cm x 5 cm x 10 cm.
-          untuk pengamatan warna kayu, amati bagian kayu terasnya
-          untuk pengamatan kesan raba amati ketiga bidangnya (radial, tangensial, longitudinal)
-          untuk pengamatan kilap kayu amati bagian radialnya
-          untuk pengamatan bau dan rasa sebaiknya dari contoh uji dari kayu yg masih baru ditebang
-          untuk pengamatan kekerasan gunakan ujung kuku atau cutter
  1. untuk pengamatan berat kayu menggunakan contoh uji ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm
- masukan contoh uji kedalam gelas ukur yang berisi air dan amati berapa bagian yang terendam air.
  1. Untuk pengujian abu (test abu) menggunakan contoh uji seukuran lidi
-          Masukan lidi kedalam gelas ukur dan bakar diatas lilin
-          Amati perubahan yg terjadi dan isikan dalam tabel dibawah ini.
-           
HASIL PENGAMATAN SIFAT FISIK
No.
jenis kayu
warna
kesan raba
bau & rasa
kilap kayu
kekerasan
berat kayu





































































































































HASIL PENGAMATAN TEST ABU
No.
jenis kayu
arang
abu sempurna
bau
bunyi














































































III.  SIFAT FISIKA KAYU

TUJUAN
    1.  Mahasiswa dapat mengetahui sifat fisika kayu
    2.  Mahasiswa dapat  menganalisa sifat2x fisika beberapa jenis kayu

LANDASAN TEORI
Kayu berasal dari berbagai jenis pohon yang memiliki sifat-sifat yang berbeda-beda.  Bahkan dalam satu pohon, kayu mempunyai sifat yang berbeda-beda.  Dari sekian banyak sifat-sifat kayu yang berbeda satu sama lain, ada beberapa sifat yang umum terdapat pada semua jenis kayu yaitu :
1.      Kayu tersusun dari sel-sel yang memiliki tipe bermacam-macam dan susunan dinding selnya terdiri dari senyawa kimia berupa selulosa dan hemi selulosa (karbohidrat) serta lignin (non karbohidrat).
2.      Semua kayu bersifat anisotropik, yaitu memperlihatkan sifat-sifat yang berlainan jika diuji menurut tiga arah utamanya (longitudinal, radial dan tangensial).
3.      Kayu merupakan bahan yang bersifat higroskopis, yaitu dapat menyerap atau melepaskan kadar air (kelembaban) sebagai akibat perubahan kelembaban dan suhu udara disekelilingnya.
4.      Kayu dapat diserang oleh hama dan penyakit dan dapat terbakar terutama dalam keadaan kering.
Sifat fisika kayu adalah sifat-sifat asli dari kayu (wood inheren factors) yang dapat berubah-rubah karena adanya pengaruh lingkungan (suhu dan kelembaban udara).
Sifat fisika kayu adalah kadar air, berat jenis, kerapatan dan pengembangan penyusutan kayu.
Kadar air kayu adalah banyaknya air yang terdapat di dalam kayu atau produk kayu biasanya dinyatakan secara kuantitatif dalam persen (%) terhadap berat kayu bebas air atau berat kering tanur (BKT), namun dapat juga dipakai satuan terhadap berat basahnya. Berat kering tanur dijadikan sebagai dasar karena berat kering tanur merupakan indikasi dari jumlah substansi/bahan solid yang ada.
Kerapatan suatu benda yang homogen adalah massa atau berat persatuan volume, sehingga kerapatan selalu dinyatakan dengan satuan gram/cm3 atau kg/m3. Massa atau berat dan volume pada perhitungan kerapatan kayu dapat menggunakan berbagai macam kondisi kayu (kondisi segar/basah, kering udara, kadar air tertentu dan kering tanur)
Penyusutan kayu merupakan Penyusutan dinding sel terjadi saat molekul‑molekul air terikat melepaskan diri dari molekul‑molekul selulosa berantai panjang dan molekul-­molekul hemiselulosa yang kemudian bergerak saling mendekat. Banyaknya penyusutan yang terjadi umumnya sebanding dengan jumlah air yang keluar dari dinding sel. Pengembangan secara sederhana adalah kebalikan proses ini.
Penyusutan dan pengembangan dinyatakan sebagai persen dimensi sebelum perubahan terjadi.
Faktor utama yg cenderungmenutupi pengaruh kerapatan terhadap penyusutan dan pengembangan adalah adanya ekstraktifyg cenderug menurunkan titik jenuh serat (TJS) dan meyumbat diding sel. Karena itulah secara dimensional kayu teras lebih stabil dibandingkan kayu gubal.
Kayu bila air di dalam rongga sel maka dikatakan mengalami penyusutan sedangkan bila air memasuki dinding sel maka dikatakan kayu mengembang.
Penyusutan longitudinal biasanya diabaikan karena nilainya kecil hanya sekitar 0,1-0,2%.
Penyusutan tangensial lebih besar dibandingkan penyusutan radial dengan perbandingan 1,5-3 : 1.  Hal ini disebabkan karena karena perbedaan ciri anatomi, jaringan jari2x, penoktahan rapat pada bidang radial, dominasi kayu musim pada arah tangensial dan perbedaan2x dalam jumlah zat dinding sel.
Hubungan penyusutan dengan kandungan bersifat linier, dimana semakin tinggi kandungan air maka semakin tinggi penyusutan.
Pengembangan penyusutan ada 2 macam :
    1. pengembangan penyusutan normal
    2. pengembangan penyusutan maksimal
Pengembangan penyustan normal adalah pengembangan penyusutan dalam kondisi udara normal
Pengembangan penyusutan maksimal adalah pengembangan penyusutan dalam kondisi jenuh air.

BAHAN DAN ALAT
  1. Contoh uji kayu ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm  (20 sample)
  2. Contoh uji kayu ukuran 5 cm x 5 cm x 10 cm (20 sample)
  3. Timbangan
  4. Kaliper
  5. pensil 2B
  6. spidol tahan air
  7. oven
  8. ember dan air

PROSEDUR
1.Kadar Air
-          Timbang contoh uji ukuran 5 cm x 5 cm x 5 cm untuk mendapatkan nilai berat basah (gr)
-          Masukan ke dalam oven selama 24 jam dengan suhu 102±3oC
-          Keluarkan dalam oven setelah 24 jam dan masukan kedalam desikator selama 15-30 menit agar suhu kayu stabil
-          Timbang kembali contoh uji kayu untuk mendapatkan berat kering tanur (gr)
-          Hitunglah dengan menggunakan rumus sbb :
KA (%)   =      berat basah (BB) – berat kering tanur (BKT)  x  100%
                               Berat kering tanur (BKT)
2.  Kerapatan
2.1. kerapatan normal
-          timbang contoh uji kayu 5 cm x 5 cm x 5 cm untuk mendapatkan massa contoh uji(M)
-          tentukan titik tengah contoh uji untuk mengukur volume contoh uji kayu  (V) dan ukurlah dengan menggunakan kaliper
-          Hitung kerapatan normal dengan menggunakan rumus sbb :
Kerapatan normal (g/ cm3)           =    massa (gr)
                                                        volume (cm3)     
            Kerapatan kering tanur
-          Masukan contoh uji kedalam oven selama 24 jam dengan suhu 102±3oC
-          Setelah 24 jam keluarkan dalam oven dan masukan desikator selama 15-30 menit
-          Timbanglah contoh uji untuk mendapatkan massa  (m)
-          Ukurlah volume contoh uji dgn menggunakan kaliper
-          Hitung kerapatan dgn menggunakan rumus seperti pada perhitungan kerapatan normal
3.      Pengembangan dan Penyusutan normal
-          Tandai bagian tengah contoh uji utk mengukur dimensinya
-          Ukur dimensi setiap bidang (longitudinal, tangensial dan radial) pada contoh uji (T1l, T1r, T1t )
-          Siapkan ember dan isikan air, kemudian masukan contoh uji kayu kedalam ember dan beri beban diatasnya agar contoh uji dapat terendam seluruhnya
-          Beri stik ganjal pada bagian bawahnya agar seluruh bagian contoh uji dapat terendam air secara sempurna.
-          Contoh uji direndam selama 24 jam
-          Setelah 24 jam direndam, tiriskan contoh uji sampai air pada contoh uji kayu tidak menetes lagi
-          Setelah itu ukur dimensi contoh uji (T2l, T2r, T2t).
-          Hitung pengembangan dan penyusutan tiap bidang kayu (radial, tangensial dan longitudinal)
Pengembangan longitudinal (%)    = T2l – T1l   x  100%
                                                                 T1l
Pengembangan tangensial (%)       = T2t – T1t   x  100%
                                                                 T1t
Pengembangan radial (%)              = T2r – T1r   x  100%
                                                                 T1r
Penyusutan longitudinal (%)          = T2l – T1l   x  100%
                                                                T2l
Penyusutan tangensial (%)             = T2t – T1t   x  100%
                                                               T2t
Penyusutan radial (%)                    = T2r – T1r x   100%
                                                              T2r

Keteranagan :
                              T2l        =  dimensi setelah perendaman bidang longitudinal
T1l        =  dimensi sebelum perendaman bidang longitudinal
T2t          =  dimensi setelah perendaman bidang tangensial
T1t          =  dimensi sebelum perendaman bidang tangensial
T2r          =  dimensi setelah perendaman bidang radial
T1r          =  dimensi sebelum perendaman bidang radial

4.      Pengembangan dan Penyusutan maksimal
-          Tandai bagian tengah contoh uji
-          Masukan dalam oven selama 24 jam dgn suhu102±3oC
-          Keluarkan dalam oven setelah 24 jam ukur dimensinya  (T1maksl, T1maksr, T1makst )
-          Siapkan ember dan isikan air, kemudian masukan contoh uji kayu kedalam ember dan beri beban diatasnya agar contoh uji dapat terendam seluruhnya
-          Beri stik ganjal pada bagian bawahnya agar seluruh bagian contoh uji dapat terendam air secara sempurna. Contoh uji direndam selama 24 jam
-          Setelah 24 jam direndam, tiriskan contoh uji sampai air pada contoh uji kayu tidak menetes lagi
-          Setelah ukur dimensi contoh uji (T2maksl, T2maksr ,T2makst).
-          Hitung pengembangan dan penyusutan tiap bidang kayu (radial, tangensial dan longitudinal)
Pengembangan longitudinal maks (%)    = T2maksl – T1maksl   x  100%
                                                                              T1maksl
      Pengembangan tangensial maks(%)        = T2makst – T1makst   x  100%
                                                                            T1makst
Pengembangan radial maks(%)               = T2maksr – T1maks r   x  100%
                                                                            T1maksr
Penyusutan longitudinal maks (%)          = T2maksl – T1maksl   x  100%
                                                                             T2maksl

Penyusutan tangensial maks (%)             = T2makst – T1makst   x  100%
                                                                            T2makst

Keteranagan :
                              T2l        =  dimensi setelah perendaman bidang longitudinal
T1l        =  dimensi kering tanur (oven) bidang longitudinal
T2t          =  dimensi setelah perendaman bidang tangensial
T1t          =  dimensi kering tanur (oven) bidang tangensial
T2r          =  dimensi setelah perendaman bidang radial
T1r          =  dimensi kerng tanur (oven) bidang radial

HASIL PENGAMATAN KADAR AIR
No.
Berat Awal
Berat Kering Tanur
Kadar Air

(gr)
(gr)
(%)
1



2



3



4



5



6



7



8



9



10




  Jumlah



 Rata-rata



 Standar Deviasi



 Coefesien Variasi



HASIL PENGAMATAN KERAPATAN NORMAL
No.
Berat Awal

Panjang

Lebar
Tebal
Kerapatan

(gram)
(cm)
(cm)
(cm)
(gram/cm3)
1





2





3





4





5





6





7





8





9





10






  Jumlah





 Rata-rata





 Standar Deviasi





 Coefesien Variasi





HASIL PENGAMATAN KERAPATAN KERING TANUR
No.
Berat Awal

Panjang

Lebar
Tebal
Kerapatan

(gram)
(cm)
(cm)
(cm)
(gram/cm3)
1





2





3





4





5





6





7





8





9





10






  Jumlah





 Rata-rata





 Standar Deviasi





 Coefesien Variasi





HASIL PENGAMATAN PENGEMBANGAN DAN PENYUSUTAN NORMAL
No.
Dimensi kayu (cm) sebelum perendaman
Dimensi kayu (cm) setelah perendaman
Pengembangan
Penyusutan
longitudinal
tangensial
radial
longitudinal
tangensial
radial
(%)
(%)
1








2








3








4








5








6








7








8








9








10









  Jumlah








 Rata-rata








 Standar Deviasi








 Coefesien Variasi












HASIL PENGAMATAN PENGEMBANGAN DAN PENYUSUTAN KERING TANUR
No.
Dimensi kayu (cm) sebelum perendaman
Dimensi kayu (cm) setelah perendaman
Pengembangan
Penyusutan
longitudinal
tangensial
radial
longitudinal
tangensial
radial
(%)
(%)
1








2








3








4








5








6








7








8








9








10









  Jumlah








 Rata-rata








 Standar Deviasi








 Coefesien Variasi

















KARTU TANDA HADIR

Nama      :                                                                              
NIM         :


No.
Pertemuan
Tanggal
Kegiatan
Keterangan
ACC
1





2





3





4





5





6





7





8





9





10





                                                                                           


FORMAT LAPORAN ILMU KAYU

Laporan diketik komputer, dengan aturan :
·   kertas A4 70 gram
·   margin kiri, kanan, atas, bawah = 4, 3, 3, 3 cm
·   spasi 1,5
·   cover :

LAPORAN PRAKTIKUM
ILMU KAYU








Oleh :

..................................... NIM .............
..................................... NIM .............
..................................... NIM .............


PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS MATARAM
2009
 


Oval: Logo UNRAM









Susunan laporan
1.    cover
2.    Kata Pengantar
3.    Pendahuluan
4.    Tinjauan Pustaka
5.    Hasil Pengamatan Dan Pembahasan
6.    Kesimpulan
7.    Daftar Pustaka
8.    Lampiran

Keterangan :  Pada Hasil Pengamatan data yang dimasukan adalah  data yang
       sudah merupakan data hasil perhitungan (data jadi) dan data pada
       saat pengamatan (data mentah) masukan pada lampiran.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Loading...